Kita Tidak Lagi Kekurangan Informasi

Beberapa tahun lalu, mendapatkan informasi membutuhkan usaha. Kita menunggu koran terbit, menonton berita pada jam tertentu, atau mencari sumber yang dianggap dapat dipercaya.

Hari ini situasinya terbalik.

Informasi justru datang sebelum kita mencarinya. Saat membuka ponsel pada pagi hari, kita mungkin sudah menemukan puluhan judul berita, potongan video, tangkapan layar, komentar, dan pesan berantai.

Masalah kita bukan lagi bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana menentukan informasi mana yang layak dipercaya.

Di sinilah persoalan baru muncul.

Kecepatan menerima informasi ternyata tidak selalu diikuti oleh kecepatan kita dalam memeriksa kebenarannya.

Judul Sering Mengalahkan Isi

Ada kebiasaan sederhana yang mungkin pernah kita lakukan: membaca judul, merasa sudah memahami peristiwa, lalu membagikannya.

Padahal sebuah judul hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan informasi.

Kalimat seperti "pemerintah akan", "DPR sepakat", "peneliti menemukan", atau "aturan baru berlaku" dapat mempunyai arti yang sangat berbeda ketika dibaca bersama konteksnya.

Rencana belum tentu keputusan. Pembahasan belum tentu pengesahan. Pernyataan seorang pejabat belum tentu menjadi kebijakan resmi.

Namun di media sosial, perbedaan-perbedaan kecil seperti itu sering hilang.

Informasi yang sebenarnya masih membutuhkan konteks kemudian berubah menjadi kepastian hanya karena disampaikan berulang kali.

Kita Juga Menyukai Informasi yang Membenarkan Keyakinan

Persoalannya bukan semata-mata teknologi.

Manusia secara alami lebih mudah tertarik pada informasi yang sesuai dengan apa yang sudah dipercayainya.

Ketika sebuah berita mendukung pandangan kita, keinginan untuk memeriksanya sering menjadi lebih kecil. Sebaliknya, ketika informasi bertentangan dengan keyakinan kita, kita dapat menjadi jauh lebih kritis.

Akibatnya, standar kebenaran tanpa disadari menjadi berbeda.

Informasi yang kita sukai cukup dengan satu tangkapan layar. Informasi yang tidak kita sukai harus membawa banyak bukti.

Kebiasaan seperti ini membuat ruang digital mudah terpecah menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing memiliki "kebenarannya" sendiri.

Tombol Bagikan Membuat Kita Menjadi Bagian dari Rantai Informasi

Dulu, menyebarkan informasi kepada ribuan orang membutuhkan media.

Sekarang hampir setiap orang mempunyai kemampuan itu.

Satu sentuhan pada tombol bagikan dapat membawa sebuah informasi dari satu grup keluarga ke grup lain, dari media sosial ke aplikasi percakapan, kemudian kembali lagi ke media sosial.

Karena itu, tanggung jawab terhadap informasi tidak lagi hanya berada pada wartawan atau perusahaan media.

Setiap orang yang membagikan informasi sebenarnya ikut menjadi bagian dari proses distribusi informasi.

Kita mungkin bukan pembuat kabar yang keliru, tetapi kita dapat membantu memperluas penyebarannya.

Menunda Beberapa Menit Bisa Menjadi Kebiasaan yang Berharga

Kita tidak mungkin melakukan pemeriksaan fakta mendalam terhadap setiap informasi yang muncul di layar.

Namun ada kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan.

Sebelum membagikan sesuatu, berhenti sebentar.

Baca lebih dari judulnya. Periksa tanggalnya. Cari sumber pertama dari pernyataan tersebut. Jika menyangkut kebijakan pemerintah, lihat apakah lembaga terkait telah menerbitkan keterangan resmi. Jika menyangkut penelitian, periksa apakah benar ada penelitian yang dimaksud.

Dan yang tidak kalah penting, tanyakan satu pertanyaan sederhana:

Apakah saya mengetahui bahwa informasi ini benar, atau saya hanya merasa informasi ini masuk akal?

Perbedaan antara keduanya sangat besar.

Kecepatan Bukan Satu-satunya Ukuran Media

Media digital memang dituntut bergerak cepat. Peristiwa terjadi setiap menit dan masyarakat ingin segera mengetahuinya.

Namun media juga perlu menerima kenyataan bahwa tidak semua informasi dapat langsung dipastikan.

Ada saat ketika kalimat "belum terverifikasi" lebih bertanggung jawab daripada memaksakan sebuah kesimpulan.

Ada pula informasi yang benar secara faktual tetapi membutuhkan konteks agar pembaca tidak memperoleh pemahaman yang keliru.

Karena itu, media seharusnya tidak hanya berlomba menjadi yang pertama memberitakan sesuatu.

Media juga perlu berlomba menjadi tempat yang membuat pembaca lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Kita Membutuhkan Budaya Memeriksa

Literasi digital sering dibayangkan sebagai kemampuan menggunakan perangkat dan aplikasi.

Padahal tantangan yang lebih besar mungkin justru terletak pada kebiasaan berpikir.

Masyarakat yang melek informasi bukan masyarakat yang mengetahui semua berita terbaru. Ia adalah masyarakat yang mampu mengatakan:

"Saya belum tahu apakah ini benar. Saya akan memeriksanya terlebih dahulu."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun di tengah dunia yang mendorong kita untuk segera berkomentar, segera bereaksi, dan segera membagikan sesuatu, kemampuan untuk menunda kesimpulan justru menjadi semakin berharga.

Teknologi mungkin akan membuat informasi bergerak semakin cepat.

Tugas kita bukan berusaha mengalahkan kecepatannya.

Tugas kita adalah memastikan bahwa akal sehat, kehati-hatian, dan kebiasaan memeriksa tidak tertinggal di belakangnya.