BANDUNG — Perkembangan kecerdasan buatan membuat akses terhadap informasi semakin mudah. Mahasiswa dapat mencari penjelasan, merangkum dokumen, menghasilkan teks hingga memperoleh bantuan menyelesaikan persoalan dalam waktu singkat.

Perubahan tersebut menghadirkan pertanyaan baru bagi perguruan tinggi: jika memperoleh informasi semakin mudah, apa yang seharusnya menjadi inti pembelajaran di kampus?

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mulai membawa pertanyaan tersebut ke pembahasan kebijakan.

Dalam Focus Group Discussion Kebijakan Strategis Pembelajaran Transformatif di Bandung pada 3 September 2026, Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco mengatakan perkembangan teknologi dan perubahan cara manusia memperoleh pengetahuan membuat pendidikan tinggi perlu mencermati kembali proses pembelajarannya. Informasi mengenai forum tersebut diterbitkan Kemdiktisaintek pada 4 September.

Apa Itu Pembelajaran Transformatif?

Dalam konteks pembahasan Kemdiktisaintek, pembelajaran transformatif tidak cukup dimaknai sebagai memindahkan kuliah dari papan tulis ke layar digital.

Perubahan yang lebih mendasar terletak pada pengalaman belajar.

Mahasiswa perlu berkembang menjadi individu yang mampu terus belajar, berpikir kritis, kreatif dan mandiri ketika menghadapi persoalan yang berubah.

Konsekuensinya, pendidikan tinggi tidak dapat hanya mengandalkan transfer informasi dari dosen kepada mahasiswa.

Mengapa AI Membuatnya Semakin Penting?

AI memperbesar akses mahasiswa terhadap informasi sekaligus menantang bentuk tugas akademik yang selama ini bergantung pada kemampuan menghasilkan jawaban.

Jika sebuah tugas dapat diselesaikan hanya dengan memasukkan satu perintah ke sistem AI, perguruan tinggi perlu mempertanyakan kompetensi apa yang sebenarnya sedang diukur.

Nilai pendidikan kemudian semakin bergeser pada kemampuan mahasiswa memahami persoalan, mengevaluasi informasi, menyusun argumentasi, mengambil keputusan, menciptakan solusi, dan mempertanggungjawabkan proses berpikirnya.

Ini bukan berarti AI menggantikan pembelajaran. Sebaliknya, perkembangan AI dapat membuat kualitas desain pembelajaran menjadi semakin penting.

Apa Artinya bagi Dosen?

Peran dosen juga berpotensi berubah.

Dosen tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi semakin diperlukan untuk merancang pengalaman belajar, memberikan umpan balik, menguji argumentasi, membimbing proses penyelidikan, dan membantu mahasiswa membedakan informasi yang dapat dipercaya dari jawaban yang sekadar terlihat meyakinkan.

Evaluasi pembelajaran juga perlu memperhatikan proses, bukan hanya produk akhir.

Presentasi, diskusi, proyek, refleksi, pemecahan masalah, pembelaan argumentasi, dan dokumentasi proses pengerjaan dapat menjadi semakin relevan ketika produk akhir mudah dibantu oleh AI.

Belum Menjadi Kebijakan Final

Ada satu batas penting.

FGD di Bandung bukan berarti pemerintah pada 4 September telah memberlakukan kurikulum nasional baru bernama “Pembelajaran Transformatif”.

Kemdiktisaintek menyatakan pembahasan forum diharapkan menghasilkan policy brief yang dapat menjadi masukan bagi strategi pendidikan tinggi menuju Indonesia 2045.

Artinya, prosesnya masih berada pada tahap pembahasan dan formulasi gagasan.

Membedakan diskusi kebijakan dari kebijakan yang telah berlaku penting agar perguruan tinggi tidak tergesa-gesa memperlakukan sebuah gagasan sebagai regulasi.

Namun arah diskusinya sudah jelas: ketika teknologi mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan, perguruan tinggi juga harus meninjau kembali apa yang membuat proses belajar benar-benar bernilai.