LOMBOK — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi menggelar The 13th International Conference on Computer, Control, Informatics and its Applications atau IC3INA 2026 pada 3–5 September 2026 di Senggigi, Lombok.

Konferensi internasional yang diselenggarakan secara hibrida tersebut tahun ini mengangkat tema “Designing Agentic AI Systems for SDGs: Autonomous Agents, Multi-Agent Collaboration, and Real-World Applications.”

Tema itu menempatkan agentic artificial intelligence sebagai salah satu fokus pembahasan. Berbeda dengan penggunaan AI yang hanya menghasilkan respons terhadap perintah pengguna, sistem agentic AI secara umum dirancang untuk menjalankan rangkaian tindakan menuju tujuan tertentu dengan tingkat otonomi yang lebih besar.

Namun, Warta tidak mengartikan istilah tersebut sebagai sistem AI yang sepenuhnya mandiri tanpa pengawasan manusia. Tingkat otonomi bergantung pada desain, lingkungan penggunaan, serta batasan yang diterapkan pada masing-masing sistem.

Dari AI hingga Sistem Multiagen

Agenda IC3INA 2026 mencakup berbagai bidang dalam ilmu komputer dan teknologi informasi.

Topik konferensi meliputi AI dan machine learning, sistem multiagen, big data dan analitik, otomatisasi dan robotika, Internet of Things, smart cities, pemerintahan digital, serta penerapan teknologi untuk pembangunan berkelanjutan.

Sistem multiagen menjadi salah satu pembahasan yang relevan dengan perkembangan AI saat ini. Dalam pendekatan tersebut, sejumlah agen komputasional dapat dirancang untuk menjalankan fungsi berbeda dan berkoordinasi dalam menyelesaikan suatu tugas.

Tema ini memperluas diskusi mengenai AI dari sekadar kemampuan model menghasilkan teks atau gambar menuju bagaimana sistem berbasis AI dapat melakukan perencanaan, koordinasi, dan tindakan dalam aplikasi dunia nyata.

Dikaitkan dengan Pembangunan Berkelanjutan

IC3INA 2026 secara khusus menghubungkan perkembangan agentic AI dengan Sustainable Development Goals atau SDGs.

Hubungan antara AI dan pembangunan berkelanjutan membuka ruang penelitian pada berbagai sektor, mulai dari pendidikan, lingkungan dan iklim hingga tata kelola, kota cerdas, analisis data, dan otomatisasi.

Meski demikian, penggunaan AI untuk mendukung SDGs tidak dengan sendirinya menjamin tercapainya tujuan pembangunan.

Efektivitas teknologi tetap bergantung pada kualitas sistem, data, konteks penerapan, tata kelola, keamanan, sumber daya manusia, serta dampaknya terhadap masyarakat.

Karena itu, pembahasan mengenai agentic AI juga relevan dengan pertanyaan yang lebih luas mengenai bagaimana teknologi otonom dapat dikembangkan secara bertanggung jawab.

Forum Pertemuan Peneliti

Konferensi berlangsung selama tiga hari dengan rangkaian keynote session, invited speaker, dan sesi paralel untuk presentasi penelitian.

Agenda resmi IC3INA menunjukkan kegiatan hari pertama dimulai pada 3 September dengan registrasi, pembukaan, sesi pembicara utama, serta presentasi ilmiah.

Forum seperti IC3INA menjadi ruang bagi peneliti untuk mendiskusikan perkembangan ilmu komputer sekaligus mempertemukan penelitian akademik dengan persoalan nyata.

Bagi ekosistem penelitian Indonesia, pembahasan agentic AI juga menunjukkan bagaimana fokus riset kecerdasan buatan berkembang semakin jauh dari sekadar penggunaan AI generatif.

Hati-hati dengan Klaim Indeksasi

Informasi mengenai publikasi hasil konferensi perlu dibaca secara hati-hati.

Informasi penyelenggara menyebut prosiding konferensi direncanakan untuk diajukan agar dapat dimasukkan ke IEEE Xplore, sesuai persyaratan dan proses yang berlaku.

Pernyataan tersebut tidak sama dengan kepastian bahwa seluruh makalah IC3INA 2026 telah atau pasti terindeks.

Karena konferensi baru berlangsung pada 3–5 September, proses publikasi dan indeksasi perlu dibedakan dari proses penerimaan dan presentasi makalah dalam konferensi.

Warta karena itu tidak menggunakan klaim bahwa seluruh artikel yang dipresentasikan pada IC3INA 2026 “sudah terindeks IEEE”.

Pelaksanaan IC3INA 2026 memperlihatkan bahwa perkembangan AI kini bergerak menuju pembahasan sistem yang semakin mampu melakukan perencanaan dan koordinasi. Tantangan berikutnya bukan hanya meningkatkan kemampuan teknologi tersebut, tetapi memastikan penerapannya tetap memiliki tujuan yang jelas, dapat dipertanggungjawabkan, dan memberikan manfaat nyata.