WARTA — Korea Selatan mencatat tonggak baru dalam perdagangan internasional. Nilai kumulatif ekspor negara tersebut mencapai sekitar US$709,4 miliar hingga 5 September 2026, melampaui rekor ekspor setahun penuh sebelumnya.

Pencapaian itu terjadi di tengah kuatnya permintaan global terhadap semikonduktor yang semakin terdorong oleh ekspansi kecerdasan buatan (AI).

Data Korea Customs Service menunjukkan bahwa sepanjang Januari–Agustus 2026, ekspor Korea Selatan tercatat US$693,318 miliar. Nilai tersebut meningkat 52,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Semikonduktor menjadi motor ekspor

Industri semikonduktor memainkan peran besar dalam lonjakan perdagangan Korea Selatan.

Reuters, dengan mengutip data otoritas Korea Selatan, melaporkan ekspor semikonduktor sepanjang Januari–Agustus mencapai sekitar US$281 miliar. Nilainya meningkat sekitar 169,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut berlangsung ketika perusahaan teknologi global meningkatkan pembangunan infrastruktur AI. Pengembangan pusat data dan server AI membutuhkan chip dalam jumlah besar, termasuk memori berperforma tinggi.

Korea Selatan memiliki posisi strategis dalam rantai pasok tersebut melalui industri semikonduktornya.

Data Korea Customs Service juga menunjukkan kuatnya perdagangan pada Agustus 2026. Ekspor pada bulan tersebut tercatat sekitar US$98,255 miliar, naik 68,7 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.

AI bukan hanya soal perangkat lunak

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa ledakan AI tidak hanya menguntungkan perusahaan yang mengembangkan chatbot atau perangkat lunak kecerdasan buatan.

Ekosistem AI membutuhkan berbagai infrastruktur fisik, mulai dari semikonduktor, server, pusat data, jaringan telekomunikasi hingga pasokan energi.

Karena itu, meningkatnya investasi AI global ikut menciptakan permintaan baru terhadap industri yang menopang infrastruktur komputasi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat posisi Korea Selatan dalam perdagangan teknologi dunia.

Menuju ekspor US$1 triliun?

Korea Customs Service memperkirakan ekspor tahunan Korea Selatan berpeluang menembus US$1 triliun apabila momentum perdagangan dapat dipertahankan.

Namun angka tersebut masih berupa proyeksi, bukan pencapaian final.

Kinerja ekspor selama sisa tahun masih dapat dipengaruhi perubahan permintaan global, kondisi geopolitik, kebijakan perdagangan, dan siklus industri semikonduktor.

Pertumbuhan ekspor Korea Selatan juga tidak terjadi secara merata di semua sektor. Hal tersebut menunjukkan bahwa lonjakan terbaru sangat ditopang oleh industri teknologi, khususnya semikonduktor.

Apa artinya bagi Indonesia?

ANALISIS WARTA — Rekor Korea Selatan memberikan gambaran mengenai besarnya nilai ekonomi yang mulai terbentuk di sekitar perkembangan AI.

Persaingan AI tidak hanya berkaitan dengan siapa yang mampu membuat model atau aplikasi kecerdasan buatan terbaik. Ada rantai ekonomi yang lebih luas meliputi chip, server, pusat data, energi, jaringan, perangkat lunak dan sumber daya manusia.

Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi pengingat bahwa peluang ekonomi AI juga terletak pada kemampuan mengambil bagian dalam rantai pasok dan infrastruktur teknologi.

Indonesia tidak harus mengikuti model Korea Selatan secara identik. Namun meningkatnya permintaan global terhadap infrastruktur AI menunjukkan bahwa pengembangan talenta, pusat data, energi dan industri teknologi akan semakin berkaitan dengan daya saing ekonomi suatu negara.

Status Warta: TERKONFIRMASI. Data perdagangan Januari–Agustus tersedia melalui Korea Customs Service, sedangkan pencapaian kumulatif US$709,4 miliar hingga 5 September dilaporkan Reuters dengan merujuk data otoritas Korea Selatan. Data perdagangan terbaru masih dapat mengalami penyesuaian ketika statistik final diterbitkan.